social & politics science

Kepemimpinan di tengah Bias Ideologi Partai Politik

oleh : Asri Nur Aini

Menuju kursi RI 1 semakin dekat. Sadar atau tidak, demokratisasi Indonesia semakin terbuka dan mengijinkan partai politik lahir, membangun dan mencengkeram pengaruhnya di setiap lini. Namun di sisi lain, masyarakat kita 80% masih dalam keadaan swing voters dalam memilih calon pemimpin. Kita menghadapi kerumitan ketika disodorkan ideology kabur, platform partai yang bermacam-macam permainan kata tetapi sama klasik tawarannya. Platform dimaknai sebagai slogan semata, selebihnya hanya sebagai plat kendaraan mereka memperoleh kekuasaan.

Seorang yang skeptis akan mengatakan bahwa kondisi masyarakat kita ada dalam zero option, mereka tidak percaya akan terjadinya terobosan setelah pergantian kepemimpinan. Para calon terlalu banyak dihadapkan kepentingan internal partai, bukan disibukkan pada komitmen dalam pengabdiannya pada masyarakat. Jelas ketidak percayaan tersebut muncul karena kemorosotan makna politik yang disorot media akhir-akhir ini.

Sahabat muslim,

Masyarakat yang seharusnya memperoleh rehabilitasi makna politik, namun kini semakin terjerumus dalam polesan yang diberikan media. Mereka kehilangan pegangan di tengah ideology kita yang campur aduk. Dalam diskusi terbatas bertema Menggagas Politik Bermakna 18 September lalu, disebutkan istilah liquid politic, yakni penciptaan kesan yang luar biasa dari tokoh politik atau artis sekalipun yang menjadikan masyarakat kehilangan active forcenya sebagai public, hanya berakhir sebagai penonton. Kini ada keraguan dalam pikiran kita seharusnya, bagaimana mereka mampu memimpin dengan baik, apabila mereka berada di tengah ideology yang bias dan secara sadar atau tidak mereka menikmati keadaan liquid politic? Kita bisa saksikan begitu kerasnya mereka mengusahakan iklan yang menguras banyak dana. Atau mencari solusi pragmatis lewat rekruitmen artis yang ujung-ujungnya menelan dana untuk pelatihan politik mereka.

Sahabat muslim yang dirahmati Allah,

Pentingnya ideology sama pentingnya nyawa dalam partai, dan menginformasikan pada kita kejelasan arah tujuan untuk kita pilih. Anis Matta menyebutkan bahwa keadaan kita seharusnya bukanlah suatu kontinuitas, melainkan permulaan yang baru. haruskah kita takut menyebutkan ideology kita secara pasti dikarenakan adanya konstruksi dari luar? Mereka yang enggan mem- pro kan demokrasi, keberpihakan pada kemakmuran rakyat dikarenakan suatu badan bernama Bank Dunia? Atau mereka menginginkan masyarakat kita dalam kondisi depolitisasi agar meluasnya kekuasaan?

Berangkat dari itu semua, kita sebagai bagian dari masyarakat sangat berperan sebagai eye control. Kita harus mencemaskan biasnya ideology dan ketidakjelasan platform serta menuntut kepastian dari masing-masing calon pemimpin bangsa ini tentang subtansi yang mereka bawa. Seperti halnya Pusat kajian politik Fisip UI mendesak agar platform seharusnya diterjemahkan dalam kerangka nyata dan rinci serta sosialisasi dilakukan secara sistematis dan terus menerus di semua level pimpinan partai, kader, anggota dan masyarakat.

Sahabat muslim,

Kepemimpinan dalam bias ideology bukannya tidak berjalan, namun ketakutan terbesar kita adalah keguncangan yang akan terjadi di negeri ini manakala fundamen atau sendi yang kita bentuk semakin rapuh dan jauh dari impian negeri kita tentang kesejahteraan.

(27/9/08)

Adyaksa Dault : “Kepemimpinan Nasional ada di tangan negarawan”

oleh : sama kaya yang diatas


Refleksi tentang kekuasaan yang mengiringi perjalanan kepemimpinan negeri ini sudah pasti dijadikan koreksi bagi kita untuk memilih pemegang amanah bangsa 5 tahun ke depan. Sudah lama kita menggemakan kata reformasi, namun tidak semua terinternalisasi dalam pemikiran kita. Terkadang disebabkan karena kita tidak mau mengimajinasikan idealisme untuk bangsa ini. Atau hanya segelintir yang memikirkan tentang pentingnya membangun opini publik.

Sahabat muslimku,

Kekhawatiran kita adalah demokrasi yang ada mengarah pada disintegrasi. Menikmati keadaan pasca reformasi tentang kebebasan luar biasa untuk berpendapat ternyata dijadikan alasan pihak-pihak menghembuskan isu, aib Apakah tepat karena alasan agar terwujudnya demokrasi? Mungkin tidak sepenuhnya berdasarkan dorongan tersebut, tetapi ada satu alasan lagi, yakni karena munculnya kekecewaan terhadap praktek kekuasaan, yang bukan dikendalikan negarawan, tapi para politikus.

Adyaksa Dault dalam diskusi yang diselenggarakan Pusat Kajian Sosiologi mengantarkan kita pada definisi politikus, subjek yang menjadikan bangsa dan negara jadi pelayannya. Sementara negarawan adalah subjek yang melayani negaranya. Yang diperlukan bangsa ini adalah mencetak negarawan. dengan visi misi jelas, wawasan luas, mengartikulasikan kepentingan rakyat, track record yang meyakinkan, serta tentu saja bermoral. Menurut pandangannya, tidak ada masalah dengan faktor usia. Tidak karena euphoria akhir-akhir ini mengenai Barrack Obama yang muda, maka umur menjadi variable yang utama. Yang lebih penting ia adalah sosok yang bertindak tanpa merugikan negara dengan memperkaya diri sendiri, dan tidak melawan hukum.

Persoalannya adalah pemaknaan karakter negarawan yang diidamkan oleh Adyaksa terbentur oleh keadaan yang kita hadapi sekarang. Apabila kita cermati terdapat masalah krusial mengenai sumber daya manusia partai, dalam hal rekruitmen dan mekanisme kaderisasi dalam tubuh partai. Ternyata 80% calon legislative yang diusulkan merupakan caleg lama. Dua puluh persen memang pemain baru, tetapi berasal dari “orang dalam” partai politik. Kita pun menyesalkan, karena dengan mudah seseorang masuk dalam struktur dikarenakan kedekatan relasi (nepotism), maupun politik uang (kolutif). Tak ada rekrutmen politik, jarang sekali terdapat mobilitas. Mereka enggan “naik kelas” karena merasa lebih safe duduk dalam kursi setingkat kabupaten, kotamadya, sebab mereka tidak suka berspekulasi sampai di tingkat nasional.

Sahabat muslim,

Jika memang kita menyepakati idealisme pelayan negara, mungkin bisa jadi mimpi untuk bangsa ini. Tapi bisa jadi kita adalah pribadi yang diinginkan tersebut. Jika realitas yang ada memang menyatakan mereka hanya menginginkan kekuasaan, maka kita ambil alih siapa negarawan itu. Kita adalah kaum intelektual yang membentuk imajinasi suatu bangsa ke depan, kontribusinya bukan politis, namun melalui diskursus atau wacana. Seperti halnya Ray Rangkuti menyebutkan tentang kebangkitan Prancis karena budayawan yang menyumbangkan pemikirannya. Dan selanjutnya, Adyaksa menginginkan kita menjadi pengamat atau bersanding dalam jajaran kelak untuk mengubah pemikiran konservatif yang semakin sulit diterima. Atau seperti halnya Bambang Shergi Laksmono yang menggambarkan kita, kaum muda sebagai taman bunga yang subur dengan warnanya sendiri, menjaga jarak agar tidak cair dengan kekacauan politik.

Sahabat muslim, Jadi, tunggu apa lagi,..mari kita cari tahu siapakah negarawan itu… (n_~)*

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: