tausiyah

Muslimah menjaga menjaga diri

Pertama, tingkatkan hubungan dengan Allah swt dan senantiasa berdoa agar diberikan kekuatan dan bimbingan.

Kedua, tingkatkan pemahaman tentang agama, khususnya fiqh wanita.

Ketiga, ciptakan lingkungan yang selalu menegakkan prinsip ‘amar ma’ruf nahi mungkar.

Keempat, rajin meminta nasihat dan doa kepada orang-orang yang terjamin keshalihannya.

Kelima, jangan putus beramal shalih.

Keenam, jangan pernah putus harapan terhadap rahmat Allah.

Insya Allah, harga diri kita selalu terjaga dan dijaga Allah.

Sumber dari Ummi online.

***

SAAT KITA MENDAPATKAN RASA BAHAGIA YANG DIRIDHOI OLEH ALLAH SEMATA

Yaitu:
Saat kita mengakui Allah sebagai tuhan dan pelindung kita
Saat kita meniti jalan kebenaran dan memikul risalah yang haq dan jujur
Saat kita melakukan jihad dengan kata-kata kita
Saat kita memelihara keimanan kita, selalu berusaha untuk mensucikan jiwa kita, dan selalu memperbarui tobat kita
Saat kita menjadi ibu yang mendidik anak- anak kita menjadi jiwa-jiwa yang bertaqwa
Saat kita menjadi ibu yang menumbuhkan mereka dengan amalan rasulullah dan menanamkan cinta kebajikan kedalam jiwa 2 mereka.

Saat – saat itulah sebenarnya kita harus merasa bahagia, dan harus berusaha untuk selalu mempertahankannya. … Janganlah kita menunggu datangnya kebahagiaan untuk dapat tersenyum, namun tersenyumlah agar kita berbahagia.Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah selalu memudahkan kita untuk meraih kebahagiaan dengan ridho Nya… Amin ya rabbil ‘alamin.

***

Hakikat Kecantikan dan Ketampanan

oleh Sasa Esa Agustiana

Sebutlah namanya Intan, penampilannya oke punya,dengan tinggi 170 cm,langsing, kulit putih bersih. Teman-temanya sering menjulukinya gadis kutilang (kurus, tinggi, dan langsing). Ia termasuk bunga kampus,banyak pria yang memuji kecantikannya.Tak jauh beda, Agus pun kerap mengundang decak kagum wanita, ia bintang basket, aktif di senat dan DKM (Dewan KeluargaMasjid) kampus,dengan tinggi 180 cm, wajah keindo-indoan, padahal ia orang Indonesia asli lho. Tampilan fisik keduanya, secara umum dapat dijuluki cantik/tampan.

Penampilan Ira dan Anto, biasa-biasa saja, tinggi sedang-sedang saja,kulit hitam manis. Mereka juga banyak disukai orang.Lalu siapa yang cantik/tampan di antara mereka sesungguhnya?

Mengukur kecantikan/ketampanan seseorang menjadi relatif, tergantung siapa yang berkomentar dan dari sudut apa penilaian dilakukan, bisa karena ukuran tinggi badan, bentuk wajah, atau warna kulit seseorang. Sesungguhnya tak mungkin kita akan bersombong ria,dengan menghina orang lain (baik secara lisan atau di dalam hati) eh…kamu tuh jelek,hidungmu dataran rendah, mukamu berjerawat, badanmu semampai (semeterpun tak sampai alias pendek), gemuk, kulit hitam legam, matamu sipit,dll. karena kecantikan dan ketampanan lahiriah ini didapat gratis dariAllah swt. tanpa campur tangan orang yang bersangkutan, diberikan begitu saja, “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At- Tiin 95: 4).

Walaupun telah diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, kecantikan dan ketampanan ini hanyalah titipan, akan berarti bila disertai ketaqwaan.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian, juga tidak penampilan kalian, tapi melihat hati dan amal perbuatan kalian. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini,beliau pun menunjuk dadanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kemuliaan manusia hanya dengan iman dan mengerjakan amal shaleh, sebagaimana diterangkan dalam Q.S.At –Tiin 95: 6. Oleh karenanya, tampilan apa pun yang ikhwan/akhwat miliki tak usah berkecil hati. Betapa adilnya Allah yang mengukur kecantikan/ketampanan kita semata dari isi hati masing-masing.

Agar kecantikan/ketampanan yang ada di dalam seseorang terpancar keluar,diperlukan beberapa hal sebagai berikut:

Menjaga Lisan Dalam bahasa Indonesia dikenal sebuah pepatah, mulutmu adalah harimau. Maksudnya, apa-apa yang kita ucapkan dapat berdampak langsung mencelakakan si pembicara ke dalam kebinasaan akibat kata-kata yang diucapkannya itu. Menarik atau tidaknya seseorang, dapat terpancar dengan tutur kata yang santun, lemah lembut, menyejukkan, sapaan ramah, walau isi yang disampaikannya itu mungkin menyangkut hal yang sederhana sekali pun,apalagi bila ditambah dengan wawasan keilmuannyamumpuni/berbobot. Ia selalu hadir menempatkan dirinya menjadi pribadi yang tawadhu (rendahhati), apabila tahu ia katakan tahu, apabila tidak ia akan bertanya pada ahlinya.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk dapat menjaga tutur kata, “…Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertutur yang baik atau diam.” ( DiriwayatkanAsy-Syaikhany dan IbnuMajah).Rasulullah saw. menetapkan dua pilihan: bertutur kata yang mengandung unsur kebaikan atau diam, karena pada dasarnya semua perkataan itu tidak terlepas dari dua nilai, yaitu perkataan berunsur kebaikan dan perkataan berunsur keburukan. Tidak berkata-kata alias diam (tidakberkomentar) karena apabila berkomentar dipandang mengandung unsurkeburukan. Misalkan menahan diri dari mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti hati orang, meledek/menghina, mencaci maki,menghasut/provokasi, mengkritik orang dengan tidak arif, dll.

Hadits lain dalam riwayat Bukhari dan Muslim menerangkan, perkataanyang manis adalah salah satu bentuk shadaqah. Bahkan Al Qur’an menerangkan: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baikdaripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan(perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Pengampun.” (Q.S.Al-Baqarah 2: 262).

Perilaku yang Baik”Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik perilakunya.” (H.R. Bukhari). At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Jabir, sesungguhnya Nabi berkata, “Sesungguhnya orangyang paling aku senangi dan paling dekat kedudukannya denganku kelak pada hari kiamat adalah yang terbaik perilakunya di antara kalian.”

Juga hadits yang lain, “Sesungguhnya aku(Rasulullah saw.) diutus untuk menyempurnakan perilaku yang benar.” (H.R.Ahmad).Firman Allah swt., “Dan sesungguhnya kamu (Rasulullah saw.)benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al Qolam 68: 4).

Menurut Aisyah r.a., istri Rasul, perilaku Muhammad saw. adalah cerminan kandungan Al Qur’an. Misalkan kesabaran, jiwa pemaaf,keikhlasan dalam beramal, keberanian membela yang benar/hak,bijaksana, dll. Sangat banyak keterangan yang mengajak kita berperilaku cantik dan tampan dalam hal akhlak/perilaku, dengan cara berupaya mengamalkan firman-Nya. Kalau perilaku ini sudah terlatih (melalui riyadhoh/latihanmembiasakan diri sehingga menjadi kebutuhan), insya Allah menjadi sifat yang tertanam kuat di dalam jiwa. Dengan sendirinya akan melahirkan perbuatan amal shaleh yang dibiasakan, tanpa harus terpaksa.

Misalnya hati akan mudah tergerak untuk memberi tanpa harus lebih dahulu diberi oleh orang lain, kesabaran hatinya melahirkan sikap yang tanpa menyerah menghadapi komentar orang bodoh/jahil terhadapnya lalu mampu memaafkannya, dan bertindak bijaksana/hati-hati mengharuskan ia menimbang dahulu apa saja dengan pertimbangan kemaslahatan untuk dirinya, keluarganya, lingkungan,dan umat.

Mampu Mengendalikan Diri Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw.bersabda, “Orangkuat itu bukan karena (kekuatannya) pada saat berkelahi. Tapi,sesungguhnya orang kuat itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah.” (H.R. Bukhari, Muslim, danAbu Daud). Boleh-boleh saja ikhwan/akhwat marah terhadap seseorang/pada suatu keadaan, asal dalam kemarahan itu ia tetap dapat menjaga lisan dan perbuatan, jangan terlalu memperturutkan hawa nafsu ingin marah tanpa kendali. Misalkan sambil mencaci-maki, memukul, sambil melempar barang, tidak mau memaafkan kesalahan orang yang membuat kita marah/dendam, marah sampai berhari-hari, memutuskan tali silaturahmi,dll.

Pada umumnya reaksi orang pada saat marah biasanya raut muka memerah,kedua matanya membelalak, urat leher tegang, hati tersulut emosi, dankata-kata tak terkontrol, sehingga membuat orangdi sekelilingnyatidak nyaman bila berdekatan dengannya.Upayakan penampilan ikhwan/akhwat tetap menarik walau dalam keadaan marah sekalipun. Caranya dengan melatih diri untukmenegur/memarahi orang dengan niat karena Allah, membenci pun karena Allah swt. Kita benci pada perbuatanya bukan pada orangnya, sehingga menjadi ibadah,bukan memperturutkan hawa nafsu syetan.

Memiliki Rasa Malu Dari Imran bin Hushain, ia berkata, Nabi saw.bersabda, “Malu itu hanya bisa tercipta dari kebaikan.” (H.R. Bukhari,Muslim dan Ahmad).Rasa malu seseorang kepada Allah swt. dapat melahirkan suatu kebaikan. Misalkan ketika bertemu dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya lalu menundukkan pandangan/tidak menatap dengan syahwat,ketika bergaul ia mampu menahan kata-katanya untuk tidak membicarakan hal yang sia-sia,dll. semata-mata karena merasa malu kepada Allahswt. Orang tersebut malu bila menggunakan karunia/nikmat Allah swt. untukkemaksiatan, iasadar selalu diawasi oleh Nya.

Menjauhi Prasangka, Memata-Matai, Dengki, dan Saling Memusuhi Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw.berkata, “Jauhilah oleh kalian berprasangka, sesungguhnya berprasangka itu sebohong-bohong perkataan. Dan janganlah kalian saling memata-matai,saling menduga-duga (kesalahan orang lain), saling mendengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allahyang bersaudara, sebagaimana telah Ia perintahkan. Orang Muslim itu adalah saudara orang Muslim lainnya, tidak menzaliminya, menghinakannya dan merendahkannya. Cukuplah kejahatanorang Muslim itu ketika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya diharamkan: Darahnya, hartanya, dankehormatannya.”(H.R. Bukhari dan Muslim).

Kita dilarang: Mengorek/memata-matai aib/aurat/keburukan/sisi negatiforang untuk diberitahukan kepada yang lain (tajassus)atau untuk dirisendiri (tahassus). Hasad, berharap agar nikmatyang didapat oranglain secepatnya musnah, sama saja apakah harapan itu diikuti dengan usaha memusnahkannya atau tidak.

Tadabur yaitu saling menjauhi,berpaling, atau memusuhi. Haqr, menghina,merendahkan, dan menganggap remeh. Zhann, kecurigaan yang tanpa sebab, tanpadasar, yang tidak ada kesesuaian dengan kenyataan, tanpa melihatbukti-bukti. Walaupun demikian, ada zhann (prasangka) yang diperbolehkan, misalnya terhadap orang yang terang-terangan menunjukkan potensi untuk diragukan, zhann terhadap masalah yang terang-terang akan mencelakakan, zhann bahwa Allah itu Maha Adil, tidak pernah zalim pada hambanya. Memata-matai orang diperbolehkan untuk tujuan menjauhkan dari kerusakan karena pertimbangan kemaslahatan yang lebihbesar. Misalkan,apabila kita mengetahui ada orang yang berniat melakukan kejahatan pembunuhan atau pencurian, kita memata-matai mereka agar dapat menggagalkan rencana tersebut.

Berbahagialah ikhwan/akhwat bila kita dapat berpenampilan cantik/tampan luar-dalam, terutama bila hati kitadipenuhi dengansifat-sifat positif seperti di atas.

Wallahu A’lamBishshawab. Doa kita bersama: “Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahassinkhuluqii”, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku,maka perindah pulalah akhlakku. (H.R. Ahmad).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: